Beranda Situs

Selamat datang di blog pribadi saya.*

Perkenalkan saya Dipa Nugraha Suyitno. Saya adalah seorang pengajar, peneliti, dan penulis. Profesi saya adalah dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Program Sarjana S-1 dan Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister (MPBI), Program Magister S-2, dan Pendidikan Bahasa Indonesia Program Doktoral S-3, FKIP, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Jabatan fungsional saya adalah Lektor Kepala atau Associate Professor bidang pengkajian fiksi. Saya biasa menggunakan nama pena Dipa Nugraha.

Ada beberapa hal mengenai diri saya yang bisa saya bagikan di laman ini. Yang pertama, saya adalah bapak beranak satu. Ingin hati menambah anak, tetapi hingga kini masih satu. Sebagai penyandang buta warna parsial dan juga pengidap hiperhidrosis primer, jangan harap saya bisa presisi saat bicara warna tersier atau tidak gelisah saat ruangan kurang dingin. Jadi, jangan ajak saya terlalu serius bicara mengenai komposisi warna. Begitu pula jangan heran bilamana Anda melihat saya berkeringat tidak normal.

Masuk ke dalam jajaran staf pengajar UMS pada awal Desember 2011, saya mulai secara resmi berpangkalan induk di PBSI FKIP UMS berdasarkan surat keputusan BPH UMS tertanggal 1 Juni 2019. Sebelumnya, saya pernah mengajar di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dan Akademi Pariwisata Mandala Bhakti Surakarta.

Proses saya menjadi dosen tetap UMS tidak terjadi melalui satu jentikan jari. Saya mengalami status menjadi dosen kontrak bersama beberapa teman yang sekarang sudah menjadi dosen tetap FKIP UMS, yaitu Suranto dosen Prodi Pendidikan Akuntansi, Choiriyah Widyasari dosen Prodi PG PAUD, dan Irma Yuliana dosen Pendidikan Teknik Informatika. Dosen lainnya yang kini juga berstatus dosen tetap di UMS adalah Fitriana Mustikaningrum dosen Prodi Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Nining Lestari yang mengajar di Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, dan Hidayah Karuniawati yang sekarang menjadi dosen Prodi Doktor Farmasi, Fakultas Farmasi.**

Status dosen kontrak sekarang sudah tidak ada di UMS. Mengingat periode dosen kontrak malah membuat saya teringat akan satu momen saat hendak bersama-sama satu grup dosen kontrak untuk “berdemo” meminta kejelasan status kami berikutnya. Saat nyaris habis status dosen kontrak, alhamdulillah saya mendapat beasiswa studi lanjut doktoral ke Australia dari LPDP sehingga saya mendapat status capeg pada salah satu prodi di FKIP UMS.

Pemerolehan beasiswa LPDP saya itu tidak lepas dari doa bapak dan bunda serta istri saya, dukungan UMS, gemblengan program intensif IEDUC, dan percobaan berulang kali melamar beasiswa yang berbeda-beda sehingga akhirnya saya bisa mempunyai pengalaman menghadapi lekuk kelok tahapan seleksi beasiswa. Saya juga berterima kasih atas informasi dari Mas Aditya Saputra (kini dosen Geografi UMS) mengenai pembukaan beasiswa LPDP dan masukan dari Edlink+Connex Surakarta mengenai kehidupan dan studi di Australia. Khusus Edlink+Connex Surakarta, mereka juga telah berjasa besar di dalam pengurusan visa istri dan anak saya serta perpanjangan visa saya tanpa biaya sepeser pun. Jangan tanya saya mengapa Edlink+Connex bisa begitu. Silakan saja tanya langsung ke Edlink+Connex. Untuk kantor Kota Surakarta ada di Kepunton, Jebres.

Singkat cerita, saya mulai kuliah di Monash University pada sekitar Maret 2014. Program doktoral Ph.D. yang saya ambil ternyata ada kelas Literary and Cultural Theory.*** Alhamdulilah saya lulus dengan nilai D (Distinction), atau hanya 3 poin dari HD (High Distinction, nilai tertinggi). Besar kemungkinan nilai saya berkurang karena saya terlambat sekian menit mengirimkan paper ke salah satu dosen.

Menjelang lulus, saya sadar bahwa studi doktoral di bawah payung ilmu kajian sastra Indonesia yang saya geluti di Monash University bakal lebih relevan apabila saya mengabdi di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMS. Melalui permohonan lewat surat elektronik sekitar 3 bulan dari masa akhir studi saya yang berlampir pindaian surat khusus dari Prof. Harry George Aveling kepada Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., pulang dari Australia saya diminta menghadap Wakil Rektor V Bidang Sumber Daya Manusia & Aset, Dr. Muhammad Musiyam, M.T. Dari beliau ini, selanjutnya saya diminta menghadap Dekan FKIP, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. dan Kaprodi PBSI, Dr. Yakub Nasucha.

Berdasarkan cerita dari beberapa kolega di Prodi PBSI kemudian hari, saat itu ternyata persetujuan perekrutan saya masuk ke dalam prodi harus ditentukan melalui pemungutan suara di internal prodi. Dalam pada itu, saya menjalani beberapa tes yang diselenggarakan oleh BPSDM UMS dengan penguji dari BPH. Tes tersebut meliputi tes wawancara, Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), mengaji, dan salat. Tes mengajar tidak diadakan atas diri saya mungkin karena saya dalam posisi sudah dan sedang mengabdi sebagai dosen di UMS. Satu hal yang terus saya ingat dari tes AIK saat itu adalah saya diminta “memperbaiki (baca: mengganti)” bacaan iftitah agar sesuai dengan bacaan yang ada di buku tarjih Muhammadiyah sebab disebut merujuk hadis-hadis yang sahih.

Saya bersyukur berhasil lulus program doktoral melalui riset dari salah satu kampus terbaik di dunia, Monash University, lewat School of Languages, Literatures, Cultures, & Linguistics atau LLCL Ph.D. Program. Secara resmi, tanggal 29 Januari 2019 adalah tanggal saya menyandang gelar Ph.D.. Dari situ kemudian saya juga memperoleh sertifikasi tertinggi (level 10) dari The Australian Qualifications Framework (AQF) per tanggal 6 Februari 2019.

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, sponsor studi doktoral saya di Monash University adalah LPDP. Saya adalah penerima beasiswa angkatan ketiga (Batch 3) dengan nomor induk 20130822100336. Beberapa kawan seangkatan saya penerima beasiswa ini adalah Ravando Lie (sejarawan epidemi), Taofik Rifai (pegiat pemberdayaan masyarakat, The Local Enablers), Ratu Tisha Destria (Mantan Sekjen PSSI), Bhima Yudhistira Adhinegara (Pengamat Ekonomi INDEF, kini mendirikan CELIOS), dan Rahmat Putra Yudha (pendiri Virtual Education Academy).

Disertasi doktoral saya berkenaan dengan sastra Indonesia dari masa awal kebangkitan sastra modern di Hindia Belanda hingga masa Revolusi. Supervisor penelitian untuk disertasi saya adalah Assc. Prof. Sarah Jane McDonald, Prof. Harry George Aveling, dan Dr. Paul Thomas. Ibu Sarah McDonald adalah ahli di bidang representasi dan konstruksi gender. Bapak Harry Aveling adalah seorang ahli sastra dan penerjemahan sastra Indonesia dan Melayu, sedangkan Bapak Paul Thomas ahli Kajian Indonesia.

Minat penelitian saya adalah Kajian Fiksi Indonesia, Teori Sastra, Kajian Gender dalam Sastra Indonesia, Sejarah Sastra Indonesia, Pascakolonialitas dalam Sastra Indonesia, dan Pembelajaran Sastra Indonesia.

NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) saya adalah 0613068303 [Cek PDDikti] dengan Nomor Registrasi Pendidik 23106100805551 berdasar No. SK 23-001048-0192. Selain itu, saya juga anggota HISKI (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) dengan nomor anggota 8845025, ADOBSI (Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia) dengan nomor keanggotaan 02-2020-000652, anggota IKAPROBSI dengan nomor anggota 02-00063, dan Asosiasi Dosen Indonesia dengan nomor anggota 0313887. Nomor identitas Sinta saya adalah 6684674 sedangkan nomor identitas Scopus saya adalah 56054682300. Untuk tawaran kolaborasi penelitian serta masukan atau kritik atas tulisan-tulisan saya, silakan hubungi saya melalui alamat surel: dipa.nugraha[at]ums.ac.id. Untuk mengunduh lembar profil atau CV saya, silakan klik di sini.

* Blog ini adalah pindahan dari tiga blog saya sebelumnya yaitu dipanugraha.blog.com yang error, dipanugrahablog.wordpress.com yang sudah tidak memadai lagi, dan dipanugraha.org yang sudah habis masa sewa hosting-nya.

** Nama-nama dosen kontrak UMS lainnya adalah Ilma Rizkia Rahma, Tastaftiyan Risfandy, Erma Tyastuti, Faradillah Rahmy Savitri, Khotimatun Na’imah, Intan Puspitasari, Nur Lathifah Mardiyati, Wulandari Berliana Putri, Nadia Nurani Isfarin, Umi Nafisah, Soni Nugroho, Aulia Kirana, Permata Ashfi Raihana, dan Farida Isnaeni.

*** Di dunia pendidikan tinggi di Australia, beberapa program doktoral mensyaratkan mahasiswa mengikuti dan lulus perkuliahan teori.